Egois bagian ke-II
Egois bagian ke-II
Prinsip-prinsip yang sudah diterapkan di awal, bisa diberlakukan di urusan lain selain soal egois. Bilamana ditemukan keadaan-keadaan yang membuat kita tidak enak, coba senantiasa berpikir ke dalam, melihat ke dalam, mencari ke dalam. Dikhawatirkan bukan karena orang lain, tetapi kita sendirilah yang mengundang semua hal di luar menjadi “ada”.
Saya contohkan lagi. Ada seseorang yang zalim kepada si A. Tapi si A tidak membalas, entah karena sungkan, takut, atau karena apa. Tapi kemudian Allah hadirkan si B, si C, si D, untuk kita, sebagai bayaran atas perbuatan kita kepada si A.
Ada disinggung istidraj di kuliah twitter terdahulu. Yakni keadaan-keadaan di mana kesenangan begitu banyak, namun maksiat dan kedurhakaan sedang dilakukan oleh kita. Sementara Allah Melihat dan belum menurunkan balasan atau azab buat mereka, memberi waktu kepada mereka, memanjangkan waktu untuk mereka, dan Allah pun masih saja menurunkan rizki untuknya, bahkan kadang membanyakkannya. Maka keadaan itulah yang disebut Istidraj.
“Walaa yahsabannalladziina kafaruu annamaa numlii lahum khoirul li-anfusihim. Innamaa numlii lahum liyazdaaduu itsmaa. Walahum ‘adzaabun ‘adzhiim. Dan janganlah orang-orang kafir mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan untuk mereka, baik untuk mereka. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka itu hanyalah agar dosa mereka bertambah-tambah, dan mereka mendapatkan azab yang menghinakan.” (Qs. Aali ‘Imroon: 178).
Wa-aakhoruuna murjauna li-amrillaahi immaa yu’adzdzibuhum wa-immaa yatuubu ‘alaihim. Wallahu ‘aliimun hakim. Dan ada pula orang yang ditangguhkan sampai ada Keputusan Allah. Adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At Taubah: 106).
Jangan malah tertawa ketika dibiarkan Allah. Jangan merasa senang Allah belum menurunkan balasan-Nya. Justru harusnya menjadi khawatir. Nanti keburu gede itu balasan Allah, dan ga kuat lagi menanggungnya. Dan sebenernya, balasan Allah di urusan keburukan, harusnya sekecil apapun, janganlah diharapkan. Baik sangkanya kita kepada Allah adalah saat Allah membiarkan kita, memberikan waktu untuk kita, adalah Allah pengen melihat kita ini bertaubat, berhenti dari perbuatan buruk, busuk, kotor, salah, bejat, jelek, dosa, maksiat, lalu mau menebusnya dengan serangkaian amal saleh, amal baik, ibadah, sampe kita diwafatkan Allah.
Berdoalah kepada Allah, bahwa kita-kita ini yang masih hidup, pasti kan akan diwafatkan. Dan kalau diwafatkan, kita pastinya akan dibangkitkan, untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita. Berdoalah, supaya Allah menghapus benar seluruh kesalahan kita, dan tidak ditampakan segala kesalahan kita itu di pengadilan hisab nanti.
“Wattaquu yauman turja’uuna ilallaahi. Tsumma tuwaffaa kullu nafsin maa kasabat wa hum laa yudzlamuun. Dan takutlah akan ada satu hari di mana kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang akan dibalas dengan balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak akan dizalimi.” (Qs. al Baqarah: 281).
Untuk Saudara yang ada perlakuan orang yang jelek terhadap Saudara, cobalah pikirkan bagaimana perlakuan Saudara ke Allah dan ke hamba-hamba-Nya yang lain. Pikirin itu. Jangan dipikirin hanya perlakuan orang lain ke Saudara dan apalagi mikirin Perlakuan Allah ke Saudara yang dianggap ga adil lah, jahat lah, buruk lah, hingga yang ada hanya penyesalan, gerutuan, rerasanan, tanpa menyadari kesalahan diri sendiri.
Saudara dikasih mata oleh Allah, tapi melihatnya yang haram-haram terus, dipakenya untuk maksiat terus. Malu lah sama Allah. Udah dikasih mata, koq ya bukan melihat untuk kebaikan. Dikasih mata bukan untuk melihat Quran. Dikasih mata koq ga bisa melihat mereka yang susah. Udah mah emang-emang faktor umur, semua pasti akan berkurang penglihatan matanya. Tapi gimana kalo bukan soal umur saja? Melainkan pengurangan nikmat adalah dari Allah, sebab kita dikenakan azab kecil di dunia ini?
Kita punya motor, patah spionnya. Besi tatakan spion masih utuh, hanya kaca spion dan tempatnya yang jatuh. Kemudian karena lama sejak jatuhnya ga dibener-benerin, akhirnya ujungnya berkarat. Eh eh eh, di kemudian hari kita terjatuh dari motor. Potongan besi bagian ujung, menancap persis di mata sebelah kiri kita. Subhaanallaah dah! Berdarah bukan dari bagian lain! Tapi berdarah dari bagian mata. Masya Allah. Dan mata pun berbalik bola matanya. Bagian depan ke belakang, bagian belakang, ke depan. Astaghfirullah. Rupanya, jatuh pertama kalinya itu spion, adalah tanda-tanda dari Allah. Sedangkan Allah kasih waktu kita supaya memperbaiki diri, menggunakan mata untuk urusan baik-baik. Tapi ternyata kita tidak kunjung baik. Akhirnya ya digituin dah sama Allah.
Inilah secuplik tentang istidraj.
Silahkan Saudara kalau kuat, lawan Allah, tantang Allah, ga usah jalankan apa yang Allah seru, langgar apa-apa yang Allah perintahkan. Dan nikmatilah azab Allah.
Mulai sekarang, ingat-ingat, kalau lagi banyak rizki, banyak kelapangan, sementara hidup deket dengan maksiat, dan sepi dari ibadah, khawatirlah sedang diistidrajkan Allah. Segera bertaubat, jangan sampe terlambat azab sudah membesar.
Nah, kembali pada soal doa, soal egoisme, jangan-jangan kita ini yang egois. Mikirinnya perbuatan orang terus ke kita, dan perlakuan Allah terus ke kita. Bukan mikirin, jangan-jangan kita yang salah, baik ke dia langsung, yang menyakiti kita, atau yang lain yang kita sakiti, hingga Allah hadirkan sosok lain untuk menyakiti kita.
Maka itu, ketika ditanya, doa apa ya yang bisa dipanjatkan tatkala kita berhadapan dengan suami/istri yang egois? Pembahasannya saya panjangkan kali lebar. Supaya bertambah pengetahuan dan peringatan dari saya untuk saya sendiri.
Di dalam rundown atau prinsip doa, ada prinsip istighfar. Prinsip memohon ampun, memuhasabahkan diri. Sebelum meminta kepada Allah. Sebelum berdoa kepada Allah. Kalau Saudara bisa tepat masuk ke jantung hati dan pikiran Saudara ketika berdoa, niscaya kita bisa-bisa berhenti melanjutkan doa dulu untuk sementara, untuk fokus kepada permohonan ampun kepada Alah.
Allah Maha Pengampun. Sebesar apapun dosa kita, Allah memiliki ampunan yang lebih besar dan lebih luas daripada seluruh dosa kita. Allah juga Maha Mengubah Keadaan. Ubah keadaan dengan banyak-banyak minta ampun. Semua keadaan di dalam Genggaman Allah. Semua perubahan di Tangan Allah. Allah Kuasa membolakbalikkan hati dan semua apa yang kita inginkan untuk berubah.
Saya cukup panjang mengupas soal ini sebagiannya di Buku “Temukan Penyebabnya Temukan Jawabannya”. Mudah-mudahan Saudara semua bisa memilikinya.
Insya Allah kita lanjutkan nanti pembahasan ke prinsip berikutnya dalam berdoa, yang ada hubungannya soal egois. Yakni ke prinsip alhamdulillaah. Prinsip memuji Allah, berterima kasih kepada Allah.
Silahkan mengembangkan tulisan ini ke kehidupan Saudara semua, ga hanya di urusan egois saja. Barangkali ada yang berurusan bukan dengan orang yang egois, tapi soal ga dapat-dapat pekerjaan, ga dapat-dapat modal usaha, ga pernah sukses-sukses, ga pernah berhasil berhasil, sakit-sakitan, koq ya rugi terus, koq ya hutang ga pernah kebayar, belum menikah, belum punya anak, dan lain sebagainya.
Makasih ya.
Pelajaran belum usai. Jadi, jangan berhenti belajar. Teruslah belajar.
Oh ya, untuk Saudara yang belum ikutan PatunganUsaha, jangan ampe ga ikut ya. Dengan 10jt, Saudara bisa ikut mewujudkan dan memiliki bisnis hotel dan apartemen yang dibangun bersama saya. Tiap tahun insya Allah dapat return dari penyelenggaraan hotel dan apartemen tersebut. Kisarannya 8% setiap tahunnya. Dan insyaAllah ini lebih besar dah daripada naro di bank, he he he. Di bank kisarannya 4%. Dan 10 tahun ke depan, duit 10jt itu dibalikin mudah-mudahan dah bisa dikembalikan 100%. Kalau belum bisa mencapai 100% di tahun ke-10, ya mudah-mudahan di tahun ke-12 bisa kembali, sementara returnnya tetap dapat di tahun ke-11 dan ke-12. Bila belum juga, ya kita panjangin pengembalian sampe 15 tahun, sementara bagi hasilnya tetap dapat sampe tahun ke-15 tsb. Koq bisa ya? Ya bisa, sebab selama hotel dan apartemen itu insya Allah masih berdiri dan beroperasi dengan izin Allah, ya dapat terus bagi hasilnya. Bahkan setelah dipulangkan modalnya pun, masih terus dapat bagi hasilnya bila hotel dan apartemen masih beroperasi.
Bagaimana jika ga kembali kembali modal? He he, ya dijual aja tuh hotel dan apartemennya. Pasti insya Allah sudah akan naik koq assetnya. Masa iya, tanah dan hotel deket bandara Soekarno Hatta Jakarta, ga bertambah-tambah harganya? Iya kan? Dibagi-bagi dah. Berapa harga jualnya, segitu yang dibagi setelah dipotong pengeluarabn-pengeluaran.
Insya Allah aman dah. Dan mudah-mudahan masih dapat berbagai kelebihan dari bisnis halal ini. Sebab hotel ini didedikasikan salah satunya untuk melayani jamaah haji dan umrah sepanjang tahun yang akan berangkat menunaikan ibadah haji dan umrah ke tanah suci. Mudah-mudahan dapat dah pahalanya.
Silahkan Saudara login ke www.patunganusaha.com. Cari tahu lebih banyak lagi, dan selamat ikutan ya. Saya doain, banyak rizki. Bisa ambil lebih dari 1 lembar. 10, atau 100 lembar, aamiin.
Salam hormat, Yusuf Mansur. Sampe ketemu di Egois bagian ke-III.
by : http://yusufmansur.com/egois-bagian-ke-ii/
Saya contohkan lagi. Ada seseorang yang zalim kepada si A. Tapi si A tidak membalas, entah karena sungkan, takut, atau karena apa. Tapi kemudian Allah hadirkan si B, si C, si D, untuk kita, sebagai bayaran atas perbuatan kita kepada si A.
Ada disinggung istidraj di kuliah twitter terdahulu. Yakni keadaan-keadaan di mana kesenangan begitu banyak, namun maksiat dan kedurhakaan sedang dilakukan oleh kita. Sementara Allah Melihat dan belum menurunkan balasan atau azab buat mereka, memberi waktu kepada mereka, memanjangkan waktu untuk mereka, dan Allah pun masih saja menurunkan rizki untuknya, bahkan kadang membanyakkannya. Maka keadaan itulah yang disebut Istidraj.
“Walaa yahsabannalladziina kafaruu annamaa numlii lahum khoirul li-anfusihim. Innamaa numlii lahum liyazdaaduu itsmaa. Walahum ‘adzaabun ‘adzhiim. Dan janganlah orang-orang kafir mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan untuk mereka, baik untuk mereka. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka itu hanyalah agar dosa mereka bertambah-tambah, dan mereka mendapatkan azab yang menghinakan.” (Qs. Aali ‘Imroon: 178).
Wa-aakhoruuna murjauna li-amrillaahi immaa yu’adzdzibuhum wa-immaa yatuubu ‘alaihim. Wallahu ‘aliimun hakim. Dan ada pula orang yang ditangguhkan sampai ada Keputusan Allah. Adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At Taubah: 106).
Jangan malah tertawa ketika dibiarkan Allah. Jangan merasa senang Allah belum menurunkan balasan-Nya. Justru harusnya menjadi khawatir. Nanti keburu gede itu balasan Allah, dan ga kuat lagi menanggungnya. Dan sebenernya, balasan Allah di urusan keburukan, harusnya sekecil apapun, janganlah diharapkan. Baik sangkanya kita kepada Allah adalah saat Allah membiarkan kita, memberikan waktu untuk kita, adalah Allah pengen melihat kita ini bertaubat, berhenti dari perbuatan buruk, busuk, kotor, salah, bejat, jelek, dosa, maksiat, lalu mau menebusnya dengan serangkaian amal saleh, amal baik, ibadah, sampe kita diwafatkan Allah.
Berdoalah kepada Allah, bahwa kita-kita ini yang masih hidup, pasti kan akan diwafatkan. Dan kalau diwafatkan, kita pastinya akan dibangkitkan, untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita. Berdoalah, supaya Allah menghapus benar seluruh kesalahan kita, dan tidak ditampakan segala kesalahan kita itu di pengadilan hisab nanti.
“Wattaquu yauman turja’uuna ilallaahi. Tsumma tuwaffaa kullu nafsin maa kasabat wa hum laa yudzlamuun. Dan takutlah akan ada satu hari di mana kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang akan dibalas dengan balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak akan dizalimi.” (Qs. al Baqarah: 281).
Untuk Saudara yang ada perlakuan orang yang jelek terhadap Saudara, cobalah pikirkan bagaimana perlakuan Saudara ke Allah dan ke hamba-hamba-Nya yang lain. Pikirin itu. Jangan dipikirin hanya perlakuan orang lain ke Saudara dan apalagi mikirin Perlakuan Allah ke Saudara yang dianggap ga adil lah, jahat lah, buruk lah, hingga yang ada hanya penyesalan, gerutuan, rerasanan, tanpa menyadari kesalahan diri sendiri.
Saudara dikasih mata oleh Allah, tapi melihatnya yang haram-haram terus, dipakenya untuk maksiat terus. Malu lah sama Allah. Udah dikasih mata, koq ya bukan melihat untuk kebaikan. Dikasih mata bukan untuk melihat Quran. Dikasih mata koq ga bisa melihat mereka yang susah. Udah mah emang-emang faktor umur, semua pasti akan berkurang penglihatan matanya. Tapi gimana kalo bukan soal umur saja? Melainkan pengurangan nikmat adalah dari Allah, sebab kita dikenakan azab kecil di dunia ini?
Kita punya motor, patah spionnya. Besi tatakan spion masih utuh, hanya kaca spion dan tempatnya yang jatuh. Kemudian karena lama sejak jatuhnya ga dibener-benerin, akhirnya ujungnya berkarat. Eh eh eh, di kemudian hari kita terjatuh dari motor. Potongan besi bagian ujung, menancap persis di mata sebelah kiri kita. Subhaanallaah dah! Berdarah bukan dari bagian lain! Tapi berdarah dari bagian mata. Masya Allah. Dan mata pun berbalik bola matanya. Bagian depan ke belakang, bagian belakang, ke depan. Astaghfirullah. Rupanya, jatuh pertama kalinya itu spion, adalah tanda-tanda dari Allah. Sedangkan Allah kasih waktu kita supaya memperbaiki diri, menggunakan mata untuk urusan baik-baik. Tapi ternyata kita tidak kunjung baik. Akhirnya ya digituin dah sama Allah.
Inilah secuplik tentang istidraj.
Silahkan Saudara kalau kuat, lawan Allah, tantang Allah, ga usah jalankan apa yang Allah seru, langgar apa-apa yang Allah perintahkan. Dan nikmatilah azab Allah.
Mulai sekarang, ingat-ingat, kalau lagi banyak rizki, banyak kelapangan, sementara hidup deket dengan maksiat, dan sepi dari ibadah, khawatirlah sedang diistidrajkan Allah. Segera bertaubat, jangan sampe terlambat azab sudah membesar.
Nah, kembali pada soal doa, soal egoisme, jangan-jangan kita ini yang egois. Mikirinnya perbuatan orang terus ke kita, dan perlakuan Allah terus ke kita. Bukan mikirin, jangan-jangan kita yang salah, baik ke dia langsung, yang menyakiti kita, atau yang lain yang kita sakiti, hingga Allah hadirkan sosok lain untuk menyakiti kita.
Maka itu, ketika ditanya, doa apa ya yang bisa dipanjatkan tatkala kita berhadapan dengan suami/istri yang egois? Pembahasannya saya panjangkan kali lebar. Supaya bertambah pengetahuan dan peringatan dari saya untuk saya sendiri.
Di dalam rundown atau prinsip doa, ada prinsip istighfar. Prinsip memohon ampun, memuhasabahkan diri. Sebelum meminta kepada Allah. Sebelum berdoa kepada Allah. Kalau Saudara bisa tepat masuk ke jantung hati dan pikiran Saudara ketika berdoa, niscaya kita bisa-bisa berhenti melanjutkan doa dulu untuk sementara, untuk fokus kepada permohonan ampun kepada Alah.
Allah Maha Pengampun. Sebesar apapun dosa kita, Allah memiliki ampunan yang lebih besar dan lebih luas daripada seluruh dosa kita. Allah juga Maha Mengubah Keadaan. Ubah keadaan dengan banyak-banyak minta ampun. Semua keadaan di dalam Genggaman Allah. Semua perubahan di Tangan Allah. Allah Kuasa membolakbalikkan hati dan semua apa yang kita inginkan untuk berubah.
Saya cukup panjang mengupas soal ini sebagiannya di Buku “Temukan Penyebabnya Temukan Jawabannya”. Mudah-mudahan Saudara semua bisa memilikinya.
Insya Allah kita lanjutkan nanti pembahasan ke prinsip berikutnya dalam berdoa, yang ada hubungannya soal egois. Yakni ke prinsip alhamdulillaah. Prinsip memuji Allah, berterima kasih kepada Allah.
Silahkan mengembangkan tulisan ini ke kehidupan Saudara semua, ga hanya di urusan egois saja. Barangkali ada yang berurusan bukan dengan orang yang egois, tapi soal ga dapat-dapat pekerjaan, ga dapat-dapat modal usaha, ga pernah sukses-sukses, ga pernah berhasil berhasil, sakit-sakitan, koq ya rugi terus, koq ya hutang ga pernah kebayar, belum menikah, belum punya anak, dan lain sebagainya.
Makasih ya.
Pelajaran belum usai. Jadi, jangan berhenti belajar. Teruslah belajar.
Oh ya, untuk Saudara yang belum ikutan PatunganUsaha, jangan ampe ga ikut ya. Dengan 10jt, Saudara bisa ikut mewujudkan dan memiliki bisnis hotel dan apartemen yang dibangun bersama saya. Tiap tahun insya Allah dapat return dari penyelenggaraan hotel dan apartemen tersebut. Kisarannya 8% setiap tahunnya. Dan insyaAllah ini lebih besar dah daripada naro di bank, he he he. Di bank kisarannya 4%. Dan 10 tahun ke depan, duit 10jt itu dibalikin mudah-mudahan dah bisa dikembalikan 100%. Kalau belum bisa mencapai 100% di tahun ke-10, ya mudah-mudahan di tahun ke-12 bisa kembali, sementara returnnya tetap dapat di tahun ke-11 dan ke-12. Bila belum juga, ya kita panjangin pengembalian sampe 15 tahun, sementara bagi hasilnya tetap dapat sampe tahun ke-15 tsb. Koq bisa ya? Ya bisa, sebab selama hotel dan apartemen itu insya Allah masih berdiri dan beroperasi dengan izin Allah, ya dapat terus bagi hasilnya. Bahkan setelah dipulangkan modalnya pun, masih terus dapat bagi hasilnya bila hotel dan apartemen masih beroperasi.
Bagaimana jika ga kembali kembali modal? He he, ya dijual aja tuh hotel dan apartemennya. Pasti insya Allah sudah akan naik koq assetnya. Masa iya, tanah dan hotel deket bandara Soekarno Hatta Jakarta, ga bertambah-tambah harganya? Iya kan? Dibagi-bagi dah. Berapa harga jualnya, segitu yang dibagi setelah dipotong pengeluarabn-pengeluaran.
Insya Allah aman dah. Dan mudah-mudahan masih dapat berbagai kelebihan dari bisnis halal ini. Sebab hotel ini didedikasikan salah satunya untuk melayani jamaah haji dan umrah sepanjang tahun yang akan berangkat menunaikan ibadah haji dan umrah ke tanah suci. Mudah-mudahan dapat dah pahalanya.
Silahkan Saudara login ke www.patunganusaha.com. Cari tahu lebih banyak lagi, dan selamat ikutan ya. Saya doain, banyak rizki. Bisa ambil lebih dari 1 lembar. 10, atau 100 lembar, aamiin.
Salam hormat, Yusuf Mansur. Sampe ketemu di Egois bagian ke-III.
by : http://yusufmansur.com/egois-bagian-ke-ii/

Posting Komentar